Patricia Marlin Rombe
Selasa, 19 September 2017 | 05:40

In Memoriam Agnes Samsoeri

agnes Samsoeri (facebook)


JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Dunia pers Indonesia berduka. Dua pers Indonesia sekaligus, yakni Agnes Samsoeri (69) dan kembali ke rumah Bapa secara bersamaan, di Rumah Sakit (RS) Siloam, Karet Semanggi, Jakarta Selatan, Senin (18/9/2017). Agnes Samsoeri adalah tokoh wartawan senior Sinar Harapan dan Suara Pembaruan, sedangkan Laures adalah wartawan senior Media Indonesia dan Metro TV.

Wartawati yang bernama lengkap Agnes Joke Samsoeri itu, menghembuskan napas terakhirnya, Senin siang sekitar pukul 11.30 WIB. Dia pergi untuk selamanya setelah beberapa lama dirawat karena menderita kanker payudara.


Dia sempat mengalami kesembuhan, bahkan sempat mengunjungi Jerman beberapa lama sekalian mengunjungi saudarinya di negera itu. Namun, setelah pulang dari sana, kondisi kesehatannya kembali menurun hingga stroke dan akhirnya Tuhan memanggilnya.

Berduka
Sejumlah wartawan senior menuturkan kesedihannya atas kepergian Agnes Samsoeri tersebut. Saat kebaktian penghiburan di Rumah Duka RS Siloam, Karet, Jakarta Selatan, Senin (18/9/2017) malam, Gardi Gazarin seorang wartawan senior Suara Pembaruan mengungkapkan, dia dan rekan-rekannya bahkan keluarganya berduka atas meninggalnya Agnes Samsoeri ini.

Gardi menuturkan, ketika menjadi pimpinan sebagai Redaktur Nusantara Suara Pembaruan, Agnes Samsoeri sangat memperhatikan para wartawannya tidak terkecuali para koresponden di daerah.

Gardi sendiri merasakan, Agnes sangat memberi perhatian kepada keluarganya. Tidak dalam bentuk materi, tapi dari sisi humanis, Agnes sering memberikan dukungan buat Gardi dan istrinya. Agnes sering memberikan petuah yang memotivasi atau menyemangati para wartawan maupun koresponden.

Meskipun hingga akhir hayatnya, Agnes Samsoeri memilih tetap sendiri, dia selalu memperhatikan masalah keluarga. Sebagai pimpinan, dia selalu bersikap bijak, tidak asal marah-marah.


“Dia tidak pernah marah dengan kata-kata kasar atau makian. Dia selalu lembut dan memanggol wartawannya yang lagi bermasalah, sehingga wartawan pun selalu nurut, tanpa dibentak atau diancam,” ujar salah seorang wartawan yang hadir malam itu.

Albert Hasibuan mantan Pemimpin Umum Suara Pembaruan dan mantan anggota Komnas HAM yang hadir di malam penghiburan itu saat memberikan kesan-kesannya mengatakan, Agnes adalah sosok wartawan yang gigih dan penuh tanggung jawab. Menurutnya, meskipun Agnes telah pergi untuk selamanya, malam itu bisa disebut sebagai selebrasi (pesta) atas kehidupan almarhumah tersebut.

Berani Tapi Santun
Agnes Samsoeri adalah sosok wartawan yang nyaris sempurna. Dia berani, tetapi santun, tidak sombong atau sok berkuasa. Kata-katanya lembut, tetapi tidak mengurangi ketegasannya.

Dia adalah wartawan yang pandai bergaul dan bisa menembus dengan mudah narasumber yang menjadi sumber berita. Namun, dia bukan wartawan yang mudah diatur apalagi diiming-imingi.

Ketika bertugas sebagai wartawan pendidikan, dia sangat dikenal dan dihormati di lingkungan Departemen (sekarang kementerian) Pendidikan dan Kebudayaan. Dia tidak mau mengambil uang transpor ketika meliput di departemen itu, karena itu untuk membalas jasanya, staf departemen menawari dia dengan proyek penulisan buku yang secara budget dapat dipertanggungjawabkan.

Kepada wartawan muda, Agnes pun selalu mengajak mereka membeli rumah atau tanah murah tanpa harus tinggal di rumah itu secepatnya, setidaknya sebagai investasi. Sebab, suatu saat tanah atau rumah itu akan menjadi mahal dan itulah yang menjadi modal bagi wartawan untuk memiliki rumah.
Karier
Meskipun seorang perempuan, Agnes Samsoeri adalah seorang wartawan pejuang dan pemberani. Dia pernah meliput perang Iran-Irak dan berani maju di garda depan di mana mesiu dan peluru berdesing di atas kepala.

Agnes Samsoeri tercatat sebagai salah satu wartawati Indonesia yang pernah mewawancari khusus Presiden Irak Saddam Husein yang fenomenal dan menyejarah. Kemampuan bahasa asingnya yang bagus membuat Agnes mudah berkomunikasi dengan banyak tokoh penting dunia.

Agnes pun pernah mewawancarai petinju legendary Muhammad Ali ketika hadir di Indonesia bertarung dengan Rudy Lubbers. Agnes berhasil mengorek dan menampilkan tulisan sisi humanis dari Ali yang umumnya ditampilkan media dari sisi garang, kasar dan sombongnya.

Singkatnya, Agnes Samsoeri telah menorehkan sosok jurnalis yang ideal dan patut menjadi teladan bagi para wartawan masa kini. Agnes adalah sosok wartawan yang lembut tapi tegas, berani tetapi tidak sombong, santun dan berintegritas tinggi.


Selamat jalan Ibu Agnes Samsoeri. Pergilah dalam damai ke surga.

 


Komentar